Senin, 03 Juni 2013

Pujian untuk Karya-Mu


Tenang dan indah.
Bahkan semua umat memuji ke-Agungan dan ke-Besaran-Mu ya Tuhan..
Dapakah aku diam dan tak angkat suara melihat kejadian yang besar ini?
Sekali-kali tidak.
Namun saya sadari satu mungkin saya bungkam, tapi tangan saya bisa menari diatas deretan huruf dan mulai merangkai kata apa yang tepat untuk memuji keagungan-Mu.
Jika aku bisa duduk lebih dekatlah lagi dengan langit,
mungkin aku bisa naik satu tingkat lagi untuk menyentuhnya atau bahkan menggapainya.
Karna disinalah tempat yang membawaku dekat dengan sang pencipta, rasa syukur itu melimpah adanya.
Tempat dmana asa itu kulepas,
beban ku injak,
dan ku biarkan setiap relung ini kosong unutk memuji-Mu...

Trimakasih, Yesus untuk tempat yang Kau sediakan

Sabtu, 01 Juni 2013

Cerpen "... Tak Berujung"


“... Tak Berujung”
Wienne M Pahlevi Lua.

Tidak seharusnya cinta itu tumbuh antara aku dan dia dalam persahabatan kami. Lebih tidak mungkin lagi jika...
“Aku berkata pergi! Dan kau tetap berada di sampingku..
Aku mendorongmu! Dan kau mendekapkan dadaku dalam pelukmu..
Aku memukulmu dan berbisik aku benci padamu! Tapi kau berteriak aku mencintaimu.
Saat Aku berjalan merunduk! Aku ingin Kau membawaku berlari melawan arah dan angin.
Aku menangis! Kamupun berkata “teruslah menangis, biarlah air mata ini menjadi saksi perjalanan cinta kita”
Dan ketika aku benar benar merasa ketakutan! Kamu berkata..
 cintaku mungkin takkan bisa menaklukan ketakutanmu, tapi akan selalu menemanimu, memberi rasa aman ketika kau bersandar padaku.”

Lalu, kemana akan ku sembunyikan cinta ini? . Kataku dalam hati dengan peluh yang menusuk sambil memandangi profil facebooknya yang kini berganti foto entah siapa, akupun tak seharusnya mengetahuinya karna hanya akan menambah goresan batin ini.
“Sudahlah, toh kalau jodoh pasti jadian” saran teman saya di ujung backbarryku.
 “Tak semudah itu ris! Sakit ini selalu mengejek aku, seakan aku adalah wanita terbodoh jika mengingat kejadian waktu lalu”.
“Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, sampai kapan kamu tinggal dengan rasa bersalahmu? Toh dia juga masih sayang kamu len..”.
“Ris, berhentilah memberiku harapan palsu seperti itu. Aku merasa, seolah-olah rasa dan harap itu bisa bersatu”.
 “Iya len, tapi dia sering curhat ke aku. Dia itu masih sayang kamu, dan dia selalu mencari celah untuk itu.”
“itu apa?”.
“Bahkan, dia masih bertanya kenapa kamu bisa melakukan hal yang tak dipikirkanya? Padahal hubungan kalian baik apa adanya.”
 “ris, dengarin aku.. dulu kita... sampai kita sering ledekan gimana jika kita jadian.. sampai pada desember lalu itu... aku juga menyesal dan gak tau kenapa keputusan itu keuar dari mulut aku.” Ceritaku panjang lebar kepada sahabat kecilku yang sedang kuliah di manado, berharap dia datang menemani malam pertamaku di bandung mengingat cerita cintaku.
 “ya udah, kamu jangan nagis lagi.. nanti kita ngobrol lagi besok” katanya halus, dan saya tahu di sedang tersenyum di ujung sana. Thx a lot sty.

Sejenak aku terdiam membisu di ruangan yang sempit, 3 x 3 meter luasnya, sambil mengenang masa terindah dalam hidupku. Betapa rindunya aku dengan desah suaranya, canda dan tawanya, rayuan gombalnya dan semuanya berakhir pada malam pergantian tahun baru itu.

Tiba-tiba enda datang dengan senyuman yang selalu membuatku tersipu malu, dan ku balas dengan senyuman yang mungkin tak seindah miliknya. Perlahan ia mendekat dan duduk disampingku, menikmati malam dimana esok adalah awal tahun 2012. Semakin lama kami bertukar cerita, semakin larut malam itu, semakin percakapan menjadi romance yang romantis. Sampai akhirnya kami hanya saling menatap tentunya di titik pandangan itu ada isyarat sayang yang tersirat.
“len, aku kira semuanya sudah cukup jelas..”.
“ha? Kok kamu ngomongnya gitu sih?” tanya ku heran sambil menatap langit menghitung bintang dan menikmati sendunya malam di kampung halaman dan berharap liburan ini memiliki makna yang berbeda.
 “Len,..” dipalingkanya wajahku dari langit menghadap wajahnya. Bisa kulihat ada keseriusan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Kutantang wajahnya dengan senyuman dan kehalusan seorang wanita menanti apa maksud dari tingkahnya.
 “hahaa..” di usapnya kepalaku dan sambil tertawa dia berkata kamu terlihat lucu, dan terlihat bukan ilen yang ia kenal. Saya hanya diam, karna shock dengan ketegangan yang terjadi karena berharap.
“Len..”. “Ada apa?”. “kok jadi ketus sih?”. “Siapa yang ketus? Lagian, kamu sih yang duluan gituin aku. Sebel”. “ehey ada yang ngambek, hehe iya iya maaf hawe (panggilan sayang dari enda dan aku)”. “Apaan sih.. gombal banget sih...” kata aku masih dengan nada yang ketus.
“yaudah, aku serius len. Aku sayang kamu. Aku ingin jadi pacar kamu”.
“Buakakkkkakakk..” tawaku memecah keheningan malam itu, 5 detik setelah kalimat itu keluar.
“Kok kamu ketawa sih? Aku serius tahu”. “serius apanya? Kamu tuh tak pernah serius”. jawabku.
“aku serius, hanya saja aku terlihat bodor di hadapanmu karna kamu adalah cinta pertama aku. Aku susah menjelaskannya dengan kata-kata yang romantis. Aku sudah mencobanya, tapi aku gagal. Aku selalu ingin tertawa ketika aku mencoba membualmu dengan rayuan gombal. Karna rasa ini ada sejak SMP. Kamu tahu, betapa lamanya aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan sesuatu yang ku kunci dan kupendam rapat-rapat dalam hati aku?”
“tapi kamu selalu bercanda denganku”.
 “sudah kubilang, aku serius. Tapi semuanya terlihat bercanda bagimu. Sudah berapa kali aku membicarakan perasaanku kepadamu dan menanyakan perasaanmu, tapi kamu gak notice kamu menanggap aku bercanda”.
“Maaf nda, aku kira semuanya bohong belaka. “
“gak len, aku sayang kamu. Aku berharap kamu mengatakan hal yang sama”. “Apa perlu ku jawab sekarang?” enda hanya diam dan mengangguk. “kamu tahu, rasa ini tumbuh seiring dengan waktu kita bersama. Kamu tahu, kapan waktu itu? Sejak kita terpisah dari risty, nayha, vaichy dan temann-teman lain. Kita bersekolah di tempat yang berbeda dengan mereka. Komunikasi yang mungkin terjadi hanya aku dan kamu. Perlahan cinta itu tumbuh dan aku semakin tak bisa membendung rasa itu. Kamu ingat waktu kita kecil dulu? Kita bertingkah sesuai dengan usia kita, ledek-ledekan. Banyak yang berkata, aku dan kamu adalah jodoh. Dari benci menjadi cinta. Halah, bullshit dengan karma itu kataku dulu. Lagian itu wajar karna  kita masih dalam masa kanak-kanak, kita bertingkah seperti kanak-kanak. Tapi, belakang aku menyadari hukum karma itu ada dan sedang terjadi. Aku menyadari, aku mencintai dan menyayangimu. Terimakasih karna telah mencintai aku sebelum aku mencintai kamu. “
“Makasih len, aku tak tahu harus berkata apa. Aku senang akhirnya ada kesempatan untuk jujur dengan perasaan yang ada di hati kita. Lalu, bagaimana dengan jawaban kamu?”
“Maaf Nda, kedengarnya seperti sadis. Tapi aku gak bisa. Jawabnya mungkin seperti kanak-kanak, aku sudah menerima orang lain sebelum kamu”. Enda speechless. Diam dan terbelalak. “Ku pikir, kamu hanya bercanda waktu dulu. Ku pikir, kamu tidak dalam keadaan serius. Kupikir kamu hanya menggoda aku. Kupikir karna kita berteman, maka tak apa kamu  mengatakan hal seperti itu. Kupikir.. kupikir.. kupikir.. banyak yang kupikirkan. Semuanya sakit jika kupirkirkan terus. Singkat cerita, akhrinya aku jadian untuk menetupi ruang kosong yang menyakitkan itu.”
“Len, akupun butuh ruang untuk bernafas. Semuanya terasa sesak dan jujur aku masih belum bisa menerima ini. anggap pembicaraan ini adalah lelucon tambahan untuk kita.” Kulihat dia tersenyum. Dan tebak apa yang kudapat? Ada tetesan air mata di lesung pipinya. “Nda, apa yang harus aku katakan? Aku minta maaf.” Aku diam dan terperosat dalam lubang yang sangat dalam. Sakit rasanya.

Sejak saat itu, aku sering melihat bagaimana hancurnya dia. Minuman keras menjadi sahabatnya setiap malam. Enda yang kukenal bukan lagi dia yang dulu. Dia menjadi monster yang menakutkan. Dan yang membuat monster itu lahir adalah aku. Aku tahu bagaimana sakitnya dia, karna aku juga merasa, bagaimana sakit melihat teman dan entahlah akan kusebut apa dia karna dia adalah orang yang paling ku sayang menjadi tidak karuan. Aku hidup dengan rasa bersalah yang kian mendalam, kuputuskan untuk mengakhiri hubungan yang ku jalani. Karna aku tak mau menjalani hubungan tanpa cinta dan kesetian. Aku tak ingin melukai orang yang mencintai aku setelah enda. Perlahan air mataku menetes di kasur mengingat masa lalu yang seharusnya tak terjadi itu.
Sekarang aku hanya merana sendiri, dan sering berkata pada langit. Dimana sekarang ia berada? Apa kabarnya? Apakah monster itu kembali lagi menjadi endaku yang  dulu? Yang sopan dan penuh sayang?. Ternyata langit mendengar, seminggu sesudah percakapan aku dan risty..

“enda calling..” Hp ku bergetar tak disangka nama itu muncul di layarku dengan tulisan dan ejaan yang semupurna. ENDA. Aku berdoa, enda kali ini adalah enda yang dulu, tanpa diikuti monster yang menakutkan itu. Lama kami bercerita tentang kisah yang kusam. Aku bisa merasakan, yang bercerita denganku barusan adalah enda yang kurindu. Bukan monster yang pernah kulihat dan kubuat. Walau tak ada kata jadian atau pacaran dalam pembicaraan itu, tapi cinta dan kesetiaan yang dulu pernah kita pupuk masi bersemi sampai sekarang.
Cerita ini memang belum berkahir, karna masih banyak hal yang akan terjadi setelah ini, karena
Selalu ada harap akan cinta dan kesetiaan di dalam hati aku dan dia.