Sabtu, 16 Juli 2011

Tak harus memiliki (cinta)


Bila nanti kau miliku, sampai usiaku. Bukanya memplaygiasi lagu ini,
Tapi, inilah..
Hal yang aku dambakan saat aku bersama dia.
Saat aku menangis. Tertawa. Senang. Aku hanya ingin dia disampingku dengan sejuta cinta dan alasan.
Tak banyak harap yang aku dambakan, karena waktu yang terbuang untuk menunggunya membuatku lebih tersiksa dari mencintainya.
Melihatnya dari kejauhan cinta ini, menjadi barometer yang terindah bagiku.
Senyum yang ‘ku terima dari cela cintanya, jujur tak pernah ‘ku hapuskan.
Aku pernah menyerah dengan cintaku.
Dan, semakin aku menyerah, keterpurukan selalu menemani hati yang gersang ini.
Hingga akhirnya Ku lepaskan dia. Tak mungkin bagiku tuk menjadi katak bagi sepasang nyamuk.
Aku jalani hari dengan barometer cinta yang tak seimbang.
Senyum dalam keterpurukan.
Gelisah dalam kobodohan.
Karena telah aku sadari, mencintai tak seharusnya memiliki.
Ku berharap, ini langkah awal perjalanan cintaku...
[tersenyum]

Itu (sakit)

Diriku monster! Tak satupun cinta datang dan tumbuh bersama hati kecil ini?
Mereka robot! Tak merasakan sentuhan cinta yang ku beri?
aku hampir tak mendapatkan kata lagi, ‘tuk jelaskan sakit ini..
selalu ku pikirkan kata kiasan mana yang harus ku pilih!
Sesering ku memiih, sesering juga ku gunakan untuk hidupku! Karna ku rasa itu indah!
Tapi perlahan,
Makna setan Itu menghancurkan hati kecilku!
Ku gunakan Itu untuk mempercantik kebohonganku! Dan berahkihir pada ketakutan!
Aku bukan Tuhan, yang mengetahui takdir
Aku bukan peramal, yang dapat menerawang
Aku hanya manusia yang hidup dalam permainan cinta tak seimbang!
Biarkan aku dicintai!
Aku lelah Mencintai!
Sungguh terlalu sakit dan lelah! Aku bertekad untuk berristirahat sejenak..
Akhirnya ku tutup mata dan hatiku, agar Aku tak dapat melihat dan merasakan sakit ini!
Tapi aku salah!
Bukan!
Aku lupa menutup pikiranku.
Karnanya aku tak bisa berhenti memikirkanya walau dalam kegelapan!
Sungguh! Ini lebih menyiksa!
Saatku tutup mata dalam bayangnya, aku takut untuk melihat kembali!..
‘bayangnya pasti hilang! Yang ku dapati pasti sakit yang sama, bahkan lebih!’...
(.)