Jumat, 16 September 2011

(Surat) untuk Ibu Pertiwi



Aku mau digengam terus. Karena aku masih takut dengan pengalaman 65 tahun silam terulang lagi.
 Aku selalu takut dalam kengerian yang mendalam.
Sejenak ku layangkan pandang jauh di awan, berbicara dengan angin yang berhembus.
Bertanya siapa di balik semua kerusuhan merah putih ini.
Aku yang tak bisa menerka, hanya duduk diam menganga di depan TV tuaku melihat kebejatan dan kebobrokan mental dari sabang sampai merauke.
Kekacauan datang seperti hantu, datang tak di jemput pulang tak diantar, tak meninggalkan bekas.
Pada siapa aku mengadu?
Aku yang terlahir sendiri, selalu menanti kemerdekaan yang selalu tertunda.
Proklamasi hanya sebuah simbol kemerdekaan,
Tapi sesungguhnya, Ibu pertiwi menangis.
KORUPSI, tertawa.
RAKYAT, menangis.
PEDANG, menari.
RAKYAT, terluka.
PISTOL, menyanyi.
RAKYAT, bungkam dalam keheningan
Tolong!
Selamatkan aku dan bangsaku.
Tolong!
Keluarkan kami dari kolong meja kebobrokan.
Karna aku tahu, ada harapan dari bayi bangsa yang lahir sesudah kami.
Tolong sampaikan surat lama ini kepada Ibu, hapus air matamu ‘Bu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ku tunggu saran dan komentmu