Aku mau digengam terus. Karena
aku masih takut dengan pengalaman 65 tahun silam terulang lagi.
Aku selalu takut dalam kengerian yang
mendalam.
Sejenak ku
layangkan pandang jauh di awan, berbicara dengan angin yang berhembus.
Bertanya
siapa di balik semua kerusuhan merah putih ini.
Aku yang tak
bisa menerka, hanya duduk diam menganga di depan TV tuaku melihat kebejatan dan
kebobrokan mental dari sabang sampai merauke.
Kekacauan
datang seperti hantu, datang tak di jemput pulang tak diantar, tak meninggalkan
bekas.
Pada siapa aku
mengadu?
Aku yang
terlahir sendiri, selalu menanti kemerdekaan yang selalu tertunda.
Proklamasi
hanya sebuah simbol kemerdekaan,
Tapi
sesungguhnya, Ibu pertiwi menangis.
KORUPSI,
tertawa.
RAKYAT,
menangis.
PEDANG,
menari.
RAKYAT,
terluka.
PISTOL,
menyanyi.
RAKYAT,
bungkam dalam keheningan
Tolong!
Selamatkan
aku dan bangsaku.
Tolong!
Keluarkan
kami dari kolong meja kebobrokan.
Karna aku
tahu, ada harapan dari bayi bangsa yang lahir sesudah kami.
Tolong sampaikan
surat lama ini kepada Ibu, hapus air matamu ‘Bu..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ku tunggu saran dan komentmu