Lagi-lagi ku
ayunkan penah hitamku di atas kertas putih. Lalu menodainya dengan macam huruf
Aku yang
terperangkap dalam 1 ruangan kecil, terduduk diam di bawah jendela yang terbuka
besar.
Seakan
memanggilku untuk terbang bersama seekor burung yang melintas.
Aku hanya
bisa memandang langit yang tak bewarna. Jauh di sana matahari bersembunyi. Hidangkan
kekakuan hidup.
Akhirnya aku
lelah juga letih mengingat sejarah hidup kelamku,
Diriku
terkapar dan jatuh. Ku coba untuk bangkit. Tapi sayang hanya setengah bengkit,
duduk berselunjur di bawah jendela.
Baru ku
sadari, Betapa sendirinya aku dalam pencarian jati diri ini.
Aku yang
tidak pernah berhenti bertanya, semua pertanyaan yang abstrak.
Pilahan
kertas bersama pensil menjadi saksi setiap pertanyaan abstrak, karna tak ada jawab di setiap penantian.
Tapi aku tak
berdaya. Kepalaku selalu merangkai kata tanpa henti.
Bodohnya
diriku manjakan jemari dengan sejuta alasan ‘tuk penuhi keinginanku.
Aku bingung
dan benci!
Emosi remaja
hampir menggrogoti tubuh yang lemah ini.
Namun
begitu, ku bersyukur kepada Tuhan untuk hari ini..
kerenn le ini lef
BalasHapus