Selasa, 16 Oktober 2012

-Apa-




Resmi tinggal di kota orang,
Hahaa itu terdengar lucu. Bagi orang dengar latar belakang sebagai orang kampung dan keluar meneruskan ilmu di tempat yang tidak kamu ketahui. Itu terlalu sulit.
Dengan doa dari keluarga, bukankah itu suatu keberuntungan dari mereka yang tidak merasakan bagaimana rindunya diri ini terhadap orang yang yang kita sayangi.
Orang yang terdekat dengan kamu bahkan bisa menjadi keluarga ke-Dua.
Tapi terkadang dalam dunia perantaumu, akan ada satu saat dimana kamu merasa sendiri. Tak ada keluarga, tak ada teman, tak ada telvon, bahkan mereka yang kita sebut sebagai keluarga ke-Dua tak punya alasan untuk datang menemani kita.
Rasanya sakit. Sangat sakit. Bahkan sakit sekali.
Saat dimana kamu  melihat banyak orang, mendengar banyak suara, ada yang berkelompok dan ada yang menyendiri. Entah ia juga sedang menikmati kesendiriaanya atau tidak. Tapi yang pasti, semuanya terasa semu dan palsu.
Aku mendengar, tapi aku seolah ingin menutup telinga.
Seolah aku ingin berteriak dan berkata “Bisakah kalian merasakan menderitanya hidup dalam dunia yang sempit dan tak bersuara?” atau “Bisakah kalian menarik aku dalam kekakuan hidup yang sendiri ini?”.
Hati ini semakin sakit, saat mendengar banyak suara tapi aku tak mengerti apa yang sedang ku dengar.
Mereka memakai bahasa yang sama dengan yang ku gunakan, tapi entah mengapa aku tak mengerti dengan jelas apa yang sedang mereka katakan. Bukankah itu berarti aku sedang berada dalam dunia yang tidak aku ketahui? Dunia yang menyeret aku sampai di batas dimana aku tak bisa mengeluarkan emosiku?
Dunia yang mengharuskan aku untuk berteriak. Tapi untuk berteriak saja tak cukup. Rasanya mati jika harus hidup dalam dunia yang seperti ini. Bahkan jika aku berteriak, bukankah mereka akan berkata gila? Bagaimana mungkin aku harus berteriak di tampat orang berkumpul.
Rasanya menangispun adalah alasan yang basi untuk di katakan.
Bahkan tertawa adalah alasan yang tak logis untuk menyembunyikan perasaan seperti apa ini?!.

Selasa, 09 Oktober 2012

-Hidup-



Hidup itu seperti koin.
Bulat, pipih, dengan 2 sisi yang berbeda dan bertolak belakang.  Tapi satu.

Dimanakah bagian dirimu?
Dalam kehidupan, ada 2 sifat. Sifat itu berputar mengelabui pikiran kita tentang hidup. Terkadang baik adalah jahat, dan jahat adalah baik.

Perjalanan dan perpindahan kehidupan selalu melompat dari titik satu ke titik lain. Atau mungkin kembali lagi ke titik sebelumnya. Atau lebih memilih diam di satu titik tertentu.
Entah itu titik jenuh atau titik keberhasilan. I don’t know exactly. Tapi jika kau mengatakan kau diam dalam titk keberhasilan, (Hahaa. Kamu adalah satu dari sekian orang yang bodoh dan sombong. Titik keberhasilan itu relative. Masih banyak orang yang lebih dan bisa melakukan apa yang tak bisa kamu lakukan).
Atau, titik dimana kamu merasa kelemahan menutupi keberhasilan bahkan sifat dan jati diri kamu.

Aku sendiripun tak mengerti sampai dimana pemahaman tentang konsep hidupku. Aku hanya ingin menulis apa yang ku lihat. Yang kurasa. Yang terjadi. Yang menjelaskan bagaimana aku hidup dalam kehidupan. Bagaimana kehidupan ada dalam hidupku.
Tapi, hidup tak bisa di jelaskan dengan akal sehat. Itu gila!.
Hidup hanya bisa di pahami dan diimani dengan kepercayaan kita kepada Bapa yang di Sorga.

Hidup itu Abstrak.
Dapatkah kamu menggambarkan hidupmu dalam sebuah kertas putih dan tintah hitam di atasnya? Absolutely not!. Dunia akan terbahak jika aku, kamu menulis dan menggambarkan kehidupan kita dalam satu narative dan puisi kuno dalam lembaran kertas.

Jika Koin diilemparkan, kemudian jatuh, dan menggelinding, Bisakah kita menentukan bagian mana yang tertutup dan bagian mana yang terbuka?.
Begitu juga hidup.
Saat kita berjalan diatas karpet kehidupan kita, takkan ada yang bisa memandang kita pada 2 sisi yang berbeda.
Jika kita berjalan, maka seorang yang berjalan di sebelah kiri kita tak bisa melihat sebelah kanan kita. Dan orang yang berada disebelah kanan kita, hanya bisa melihat sebelah kanan kita.
Kalau begitu, haruskah aku berada di belakang? (Haha. Pertanyaan bodoh).
Kalau begitu, bisakah kamu melihatku, jika kamu berada di belakang saya?
Saya juga tak mengetahui, bagaimana melihat seseorang dengan sudut pandang yang baik. Agar
Ke dua sisi itu dapat di raih. Karena persepsi ini adalah hal mutlak untuk di pahami sebagai pribadi dan pejalan kehidupan.

From me, to you, a life hunter

Senin, 01 Oktober 2012

Untukmu, saudaraku (KHB)



     Bermain bersama.  Berkunjung, menjenguk sesama kami penyandang status perantau.  Serasa dunia hanya milik kita.  Berlari menembus waktu, berjalan dengan indahnya dunia persahabatan dan keluarga yang baru.  
 Mengenal dan di kenal.Keluarga tanpa ikatan darah.Merasa memiliki dan dimiliki.  Berjalan bersama dalam satu garis lurus tanpa ego dan ambisi.  Terbang bersama kupu-kupu mencapai cita dan impian yang diatas sana.  
 Terikat dalam satu janji untuk saling menjaga dan merawat. Berdoa dalam tempo yang berbeda tapi satu arti.  Menangis dan tertawa melupakan keluarga yang jauh disana. Menjauh dari titik kerinduan yang selalu menjajah tiap jiwa kami.
Perkubuan mengalahkan ego dan ambisi setiap kami. Tapi tak akan bisa mengalahk KASIH dan SAYANG yang melekat dalam hati kecil kami. Benang merah persaudaraan takkan putus dalam perkubuan.
Aku, kamu, dia, dan kita, mengasihi dan mencintai kalian, keluarga baruku, Kawanua Harapan Bangsa, ITHB.


Untuk (Dia) seseorang sebelum (dia)



Membuka halaman baru memang terasa indah.
Putih, bersih, tanpa tintah dan hitam.
Maukupun tak ingin mengetori kertas cantik ini.
Ada ragu ketika hati ingin melangkah maju. Bayang kertas cinta itu masih ada dan berbekas hitam pekat.
Takut jika lembaran baru ini hanya sebuah harapan.
Tintah yang seharusnya hitam pena menjadi kelabu pensil. Cerita itu bisa di hapus dan hilang.
Tak di pungkuri ada harapan yang ku gantungkan dalam hatiku dan dia.