Resmi tinggal di kota orang,
Hahaa itu terdengar lucu. Bagi orang dengar latar belakang sebagai orang
kampung dan keluar meneruskan ilmu di tempat yang tidak kamu ketahui. Itu terlalu
sulit.
Dengan doa dari keluarga, bukankah itu suatu keberuntungan dari mereka
yang tidak merasakan bagaimana rindunya diri ini terhadap orang yang yang kita
sayangi.
Orang yang terdekat dengan kamu bahkan bisa menjadi keluarga ke-Dua.
Tapi terkadang dalam dunia perantaumu, akan ada satu saat dimana kamu
merasa sendiri. Tak ada keluarga, tak ada teman, tak ada telvon, bahkan mereka
yang kita sebut sebagai keluarga ke-Dua tak punya alasan untuk datang menemani
kita.
Rasanya sakit. Sangat sakit. Bahkan sakit sekali.
Saat dimana kamu melihat banyak
orang, mendengar banyak suara, ada yang berkelompok dan ada yang menyendiri. Entah
ia juga sedang menikmati kesendiriaanya atau tidak. Tapi yang pasti, semuanya
terasa semu dan palsu.
Aku mendengar, tapi aku seolah ingin menutup telinga.
Seolah aku ingin berteriak dan berkata “Bisakah kalian merasakan
menderitanya hidup dalam dunia yang sempit dan tak bersuara?” atau “Bisakah
kalian menarik aku dalam kekakuan hidup yang sendiri ini?”.
Hati ini semakin sakit, saat mendengar banyak suara tapi aku tak
mengerti apa yang sedang ku dengar.
Mereka memakai bahasa yang sama dengan yang ku gunakan, tapi entah
mengapa aku tak mengerti dengan jelas apa yang sedang mereka katakan. Bukankah itu
berarti aku sedang berada dalam dunia yang tidak aku ketahui? Dunia yang
menyeret aku sampai di batas dimana aku tak bisa mengeluarkan emosiku?
Dunia yang mengharuskan aku untuk berteriak. Tapi untuk berteriak saja tak cukup. Rasanya mati jika harus hidup dalam dunia yang seperti ini. Bahkan jika aku berteriak, bukankah mereka akan berkata gila? Bagaimana mungkin aku harus berteriak di tampat orang berkumpul.
Dunia yang mengharuskan aku untuk berteriak. Tapi untuk berteriak saja tak cukup. Rasanya mati jika harus hidup dalam dunia yang seperti ini. Bahkan jika aku berteriak, bukankah mereka akan berkata gila? Bagaimana mungkin aku harus berteriak di tampat orang berkumpul.
Rasanya menangispun adalah alasan yang basi untuk di katakan.
Bahkan tertawa adalah alasan yang tak logis untuk menyembunyikan perasaan
seperti apa ini?!.