Hidup itu seperti koin.
Bulat, pipih, dengan 2 sisi yang
berbeda dan bertolak belakang. Tapi
satu.
Dimanakah bagian
dirimu?
Dalam
kehidupan, ada 2 sifat. Sifat itu berputar mengelabui pikiran kita tentang
hidup. Terkadang baik adalah jahat, dan jahat adalah baik.
Perjalanan dan perpindahan kehidupan selalu melompat dari titik satu ke
titik lain. Atau mungkin kembali lagi ke titik sebelumnya. Atau lebih memilih
diam di satu titik tertentu.
Entah itu titik jenuh atau titik keberhasilan. I don’t know exactly. Tapi
jika kau mengatakan kau diam dalam titk keberhasilan, (Hahaa. Kamu adalah satu
dari sekian orang yang bodoh dan sombong. Titik keberhasilan itu relative. Masih
banyak orang yang lebih dan bisa melakukan apa yang tak bisa kamu lakukan).
Atau, titik dimana kamu merasa kelemahan menutupi keberhasilan bahkan
sifat dan jati diri kamu.
Aku sendiripun tak mengerti sampai dimana pemahaman tentang konsep
hidupku. Aku hanya ingin menulis apa yang ku lihat. Yang kurasa. Yang terjadi. Yang
menjelaskan bagaimana aku hidup dalam kehidupan. Bagaimana kehidupan ada dalam
hidupku.
Tapi, hidup tak bisa di jelaskan dengan akal sehat. Itu gila!.
Hidup hanya bisa di pahami dan diimani dengan kepercayaan kita kepada
Bapa yang di Sorga.
Hidup itu Abstrak.
Dapatkah kamu menggambarkan hidupmu dalam sebuah kertas putih dan tintah
hitam di atasnya? Absolutely not!. Dunia akan terbahak jika aku, kamu menulis
dan menggambarkan kehidupan kita dalam satu narative dan puisi kuno dalam
lembaran kertas.
Jika Koin diilemparkan, kemudian jatuh, dan menggelinding, Bisakah kita
menentukan bagian mana yang tertutup dan bagian mana yang terbuka?.
Begitu juga hidup.
Saat kita berjalan diatas karpet kehidupan kita, takkan ada yang bisa
memandang kita pada 2 sisi yang berbeda.
Jika kita berjalan, maka seorang yang berjalan di sebelah kiri kita tak
bisa melihat sebelah kanan kita. Dan orang yang berada disebelah kanan kita,
hanya bisa melihat sebelah kanan kita.
Kalau begitu, haruskah aku berada di belakang? (Haha. Pertanyaan bodoh).
Kalau begitu, bisakah kamu melihatku, jika
kamu berada di belakang saya?
Saya juga tak mengetahui, bagaimana melihat seseorang dengan sudut
pandang yang baik. Agar
Ke dua sisi
itu dapat di raih. Karena persepsi ini adalah hal mutlak untuk di pahami
sebagai pribadi dan pejalan kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ku tunggu saran dan komentmu