Terkadang kita jenuh.
Tanpa kita sadari, ada begitu banyak
hal ada di pikiran kita.
Kita ingin mengeluh, tapi tak ada
telinga yang mau mendengar.
Kita ingin menangis, tapi tak
ada hati yang siap berempati
Kita ingin berontak, tapi jiwa
ini terlalu lemah untuk bergerak.
Bahkan jika diam sekalipun, tak
ada tempat untuk mengasingkan diri.
Lalu pada siapa gerangan mulut
ini hendak berkata dan berucap tentang apa yang ku lihat, yang ku dengar, yang
ku pikir, dan yang ku pendam.
Jahitan kata ini, bukan
berdedikasi dari seorang yang kesepian tanpa teman. Hanya saja, saat hampa
datang mengucap salam kepada
hati yang sedang lara, terkadang kita merindukan telinga untuk
mendengar, hati yang berempati,
bahkan ruang kosong untuk dapat berucap.
Tapi sekalipun tak ada raga yang
bersama kita, ada Roh Kudus dalam hati yang bisa dan siap memahami
betapa kacaunya suasana hati,
jiwa, pikiran, dan tubuh ini.
Terimakasih Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ku tunggu saran dan komentmu